04 September 2017

SPACE OCCUPYING LESION (SOL)

 

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

SPACE OCCUPYING LESION (SOL)

 

A.    Konsep Dasar Penyakit

  1. Pengertian

SOL (Space Occupying Lesion) merupakan generalisasi masalah mengenai adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Terdapat beberapa penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intracranial (Suzanne dan Brenda G Bare. 1997: 2167). 

Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak / ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak. Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik ganas maupun tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah semua proses neoplastik yang terdapat dalam intracranial atau dalam kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian atau seluruh sifat-sifat proses ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-selsaraf di meaningen otak, termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang (Neuroglia), sel epitel pembuluh darah dan selaput otak (Fransisca B Batticaca. 2008: 84).

Tumor otak adalah lesi intrakranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak. Tumor otak (tumor intrakranial) meliputi lesi benigna dan maligna. Tumor otak dapat terjadi pada beberapa struktur area otak dan pada semua kelompk umur. Tumor otak dinamakan sesuai dengan jaringan dimana tumor itu muncul. Tumor otak jarang bermtastasi keluar dari dari sistem syaraf pusat tapi menyebabkan kematian dengan cara merusak fungsi vital / terlibat secara langsung meningkatkan intrakranial. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal didalam otak, tetapi tidak ganas. Tumor otak maligna adalah kanker didalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan sebelahnya / yang telah menyebar keotak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah (Reeves C,J. 2001. Keperawatan medical bedah).

 

  1. Etiologi / Penyebab

Penyebab tumor masih sangat sedikit yang diketahui. Radiasi merupakan salah satu dari factor penyebab timbulnya tumor otak. Trauma, infeksi, dan toksin belum dapat dibuktikan sebagai penyebab timbulnya tumor otak tetapi bahan industri tertentu seperti nitrosourea adalah krasinogen yang paten. Limfoma lebih sering terdapat pada mereka yang mendapat imunosupesan seperti pada transplantasi ginjal. Sumsum tulang dan pada AIDS (Reeves C,J. 2001. Keperawatan medical bedah).

 

  1. Patofisiologi

Tumor otak menyebabkan gangguan neurolagis. Gejala-gejala terjadi berurutan hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan vocal terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi / inovasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.

Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer.

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompersi invasi dan perubahan suplai darah kejaringan otak.

Peningkatan intrakranial dapat diakibatakan oleh beberapa factor : bertambahnya masa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi serebrospinal.

Pertumbuhan tumor akan menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan mengambilkan ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku.

Tumor ganas menimbulkan odem dalam jaringan otak. Mekanisme belum sepenuhnya dipahami namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena oedema  yang disebabkan kerusakan sawar darah otak semuanya menimbulkan kenaikan volume inntrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari vantrikel laseral keruang sub arakhnoid menimbulkan hidrosephalus.

Peningkatan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicaraknan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memrlukan waktu berhari-hari / berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna bila apabila tekanan intrakranial timbul cepat.

Mekanisme kompensasi ini bekerja menurunkan volume darah intrakranial, volume cairan cerborspinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim.

Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus/ serebulum.herniasi timbul bila girus medalis lobus temporalis bergeser keinterior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemister otak. Herniasi menekan ensefalon menyebabkan kehilangan kesadaran dan menekan saraf ke tiga.

Pada herniasi serebulum tonsil sebelum bergeser kebawah melalui foramen magnum oleh suatu massa poterior (Suddart, Brunner. 2001).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Idiopatik

     
    Pathway

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                                               


 


  1. Gejala Klinis

a.       Tanda dan gejala  peningkatan TIK :

1)         Sakit kepala

2)         Muntah

3)         Papiledema

b.      Gejala terlokalisasi ( spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena ) :

1)      Tumor  korteks motorik ; gerakan seperti kejang kejang yang terletak pada satu sisi tubuh ( kejang jacksonian )

2)      Tumor lobus oksipital ; hemianopsia homonimus kontralateral (hilang penglihatan pada setengah lapang pandang, pada sisi yang berlawanan dengan tumor) dan halusinasi penglihatan.

3)      Tumor serebelum ; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan  dengan kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan nistagmus ( gerakan mata berirama dan tidak disengaja )

4)      Tumor lobus frontal ; gangguan kepribadia, perubahan status emosional dan tingkah laku, disintegrasi perilaku mental, pasien sering menjadi ekstrim yang tidak teratur dan kurang merawat diri

5)      Tumor sudut serebelopontin ; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (gangguan saraf kedelapan), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (saraf kelima), kelemahan atau paralisis (saraf kranial keketujuh), abnormalitas fungsi motorik.

6)      Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi, gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia. (Brunner & Sudarth, 2003 ; 2170 )

 

  1. Klasifikasi

Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM ). Terdiri dari 3 kategori, yaitu : T ( tumor primer ), N ( nodul regional, metastase ke kelenjar limfe regional ) dan  M ( metastase jauh ).

Kategori  T :

Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi.

Tis = Tumor in situ.

T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer.

T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm.

T2 = Tumor dengan f maksimal 2 – 5 cm.

T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm.

T4 = Tumor invasi keluar organ.

Kategori N :

N0 = Nodul regional negative.

N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perletakan ).

N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan.

N3 = Nodul jukstregional atau bilateral.

Kategori M :

Mo = Tidak ada metastase organ jauh.

M1 = Ada metastase organ jauh.

M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.

 

Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut menurut (Lionel Ginsberg, Neurologi :117) yaitu :

1.      Benigna umumnya ekstra aksial, yaitu tumbuh dari meningen, nervus kranialis, atau struktur lain dan menyebabkan kompresi ekstrinsik pada substansi otak.

2.      Maligna umumnya intra aksial yaitu berasal dari parenkim otak :

a)      Primer umumnya berasal dari sel glia/neurobia ( glioma ) tumor ini diklasifikasikan maligna karena sifat invasif lokal, metastasis ekstrakranial sangat jarang, dan dikenali sebagai subtipe histologi dan derajat diferensiasi.

b)      Sekunder metastasis dari tumor maligna dari bagian tubuh lainnya.

 

 

  1. Pemeriksaan Diagnostik / penunjang

a.       CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasi tentang sistem vaskuler.

b.      MRI : Membantu dalam mendeteksijejas yang kecil dan tumor didalam batang otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT Scan

c.       Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan seta informasi prognosi.

d.      Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor

e.       Elektroensefalografi (EEG) : Mendeteksi gelombang otak abnormal

 

  1. Komplikasi

a.       Edema serebral.

b.      Tekanan intrakranial meningkat.

c.       Herniasi otak.

d.      Hidrosefalus.

e.       Kejang.

f.       Metastase ketempat lain.

 

  1. Penatalaksanaan

Tumor otak yang tidak terobati menunjukkan ke arah kematian, salah satu akibat peningkatan TIK atau dari kerusakan otak yang disebabkan oleh tumor. Pasien dengan kemungkinan tumor otak harus dievaluasi dan diobati dengan segera bila memungkinkan sebelum kerusakan neurologis tidak dapat diubah. Tujuannya adalah mengangkat dan memusnahkan semua tumor atau banyak kemungkinan tanpa meningkatkan penurunan neurologik (paralisis, kebutaan) atau tercapainya gejala-gejala dengan mengangkat sebagian (dekompresi).

·         Pendekatan pembedahan (craniotomy)

Dilakukan untuk mengobati pasien meningioma, astrositoma kistik pada serebelum, kista koloid pada ventrikel ke-3, tumor kongenital seperti demoid dan beberapa granuloma. Untuk pasien dengan glioma maligna, pengangkatan tumor secara menyeluruh dan pengobatan tidak mungkin, tetapi dapat melakukan tindakan yang mencakup pengurangan TIK, mengangkat jaringan nefrotik dan mengangkat bagian besar dari tumor yang secara teori meninggalkan sedikit sel yang tertinggal atau menjadi resisten terhadap radiasi atau kemoterapi.

·      Pendekatan kemoterapy

Terapi radiasi merupakan dasar pada pengobatan beberapa tumor otak, juga menurunkan timbulnya kembali tumor yang tidak lengkap transplantasi sum-sum tulang autologi intravens digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi atau terapi radiasi karena keadaan ini penting sekali untuk menolong pasien terhadap adanya keracunan sumsum tulang sebagai akibat dosis tinggi radiasi.

Kemoterapi digunakan pada jenis tumor otak tertentu saja. Hal ini bisa digunakan pada klien :

    1. Segera setelah pembedahan/tumor reduction kombinasi dengan terapi radiasi
    2. Setelah tumor recurance
    3. Setelah lengkap tindakan radiasi

·      Pendekatan stereotaktik

Stereotaktik merupakan elektroda dan kanula dimasukkan hingga titik tertentu di dalam otak dengan tujuan melakukan pengamatan fisiologis atau untuk menghancurkan jaringan pada penyakit seperti paralisis agitans, multiple sklerosis & epilepsy. Pemeriksaan untuk mengetahui lokasi tumor dengan sinar X, CT, sedangkan untuk menghasilkan dosis tinggi pada radiasi tumor sambil meminimalkan pengaruh pada jaringan otak di sekitarnya dilakukan pemeriksaan Radiosotop (III) dengan cara ditempelkan langsung ke dalam tumor.

 


B.     Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian

a.       Identitas klien : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit dan askes.

b.      Keluhan utama : nyeri kepala disertai penurunan kesadaran.

c.       Riwayat penyakit sekarang : demam, anoreksi dan malaise peninggian tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal.

d.      Riwayat penyakit dahulu : pernah, atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media, mastoiditis) atau infeksi paru – paru (bronkiektaksis, abses paru, empiema), jantung (endokarditis), organ pelvis, gigi dan kulit).

e.       Aktivitas / istirahat

Gejala : malaise

Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter.

f.        Sirkulasi

Gejala : adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis

Tanda : TD : meningkat

N : menurun (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor).

g.      Eliminasi

Gejala : -

Tanda : adanya inkonteninsia dan atau retensi.

h.      Nutrisi

Gejala : kehilangan nafsu makan, disfagia (pada periode akut)

Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.

i.        Hygiene

Gejala : -

Tanda : ketergantungan terhadap semua kebutuhan, perawatan diri (pada periode akut).

j.        Neurosensori

Gejala : sakit kepala, parestesia, timbul kejang, gangguan penglihatan.

Tanda : penurunan status mental dan kesadaran. Kehilangan memori, sulit dalam keputusan, afasia, mata : pupil unisokor (peningkatan TIK), nistagmus, kejang umum lokal.

k.      Nyeri / kenyamanan

Gejala : sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher / pungung kaku.

Tanda : tampak terus terjaga, menangis / mengeluh.

l.        Pernapasan

Gejala : adanya riwayat infeksi sinus atau paru

Tanda : peningkatan kerja pernapasan (episode awal). Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah

m.    Keamanan

Gejala : adanya riwayat ISPA / infeksi lain meliputi : mastoiditis, telinga tengah, sinus abses gigi, infeksi pelvis, abdomen ataukulit, fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak / cedera kepala.

n.      Pemeriksaan fisik

Saraf                  : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia, penurunan / kehilangan memory,afek tidak sesuai, berdesis.

Penglihatan       : penurunan lapang pandangan, penglihatan kabur.

Pendengaran     : tinitus, penurunan pendengaran, hlusinasi.

Sietem pernafasan: irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan nafas, disfungsi neuromaskuler.

Sistem hormonal: amenrea, rambut rontok, DM.

Motorik             : hiperekstensi, kelemahan sendi.

 

 

 

 

 

 

 

2.      Diagnosa keperawatan

1)      Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungn dengan kurangnya darah ke jaringan otak

2)      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan disfungsi neuromaskuler (hilangnya kontrol terhadap otot pernafasan).

3)      Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK

4)      Risiko cidera berhubungan dengan kerusakan jaringan neuron, kejang.

5)      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan peningkatan TIK

6)      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan tumor / kerusakan jaringan ditandai dengan kelemahan, paralisis, abnormalitas fungsi motorik

7)      Gangguan sensori persepsi berhubungan dengantumor / kerusakan jaringan ditandai dengan hilang penglihatan pada setengah lapang pandang.

 

 


3.      Intervensi

No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria hasil

Intervensi

Rasional

1

Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungn dengan kurangnya darah ke jaringan otak

 

Setelah diberikan asuhan  keperawatan selama 3x24 jam diharapkan perfusi jaringan kembali normal dengan kriteria hasil :

a)      TTV normal

b)      Kesadaran pasien kembali seperti sebelum sakit

c)      Gelisah hilang

d)     Ingatanya kembali seperti sebelum sakit

a)      Memantau status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya seperti GCS

 

 

b)      Memantau frekuensi dan irama jantung

 

 

c)      Memantau suhu juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi penggunaan selimut dan lakukan kompres hangat jika terjadi demam

d)     Memantau masukan dan pengeluaran, catat karakteristik urin, tugor kulit dan keadaan membrane mukosa

e)      Kolaborasi pemberian obats esuai indikasi seperti steroid, klorpomasin, asetaminofen

 

 

 

a)   Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensi TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran, luas,dan perkembangan dari kerusakan

b)   Perubahan pada frekuensi dan disritmia dapat terjadi yang mencerminkan trauma atau tekanan batang otak tentang ada tidaknya penyakit

c)   Demam biasanya berhubungan dengan proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus

d)  Hipertermi meningkatkan kehilangan air dan meningkatkan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun

e)   Dapat menurunkan permebilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema, mengatasi menggigil yang dapat meningkatkan TIK, menurunkan metabolism seluler/ menurunkan konsumsi oksigen

 

2

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan disfungsi neuromaskuler (hilangnya kontrol terhadap otot pernafasan).

 

Setelah diberikan asuhan  keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan pertukaran gas dengan kriteria hasil :

a)      Tidak terjadi dispnea.

b)      Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat

c)      GDA dalam rentang normal.

d)     Bebas dari gejala distres pernapasan.

 

a)      Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal, peningkatan upaya  respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.

 

b)      Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku.

c)      Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir    disiutkan, terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkim.

d)     Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan.

e)      Monitor GDA

 

 

 

f)       Berikan oksigen sesuai indikasi

 

 

g)      Berikan bronkodilator sesuai yang diharapkan:

a.  Dapat dilakukan peroral, IV, rektal, atau dengan inhalasi

b.  Berikan bronkodilator oral, IV pada waktu yang berselingan dengan tindakan nebuliser

 

 

a)   Weezing atau mengi indikasi akumulasi sekret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas  sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat.

b)   Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenasi di organ vital dan jaringan.

 

 

c)   Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas.

 

 

 

d)  Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi.

e)   Menurunnya saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya, PaC02 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan terapi.

f)    Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder terhadap hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru.

g)   Bronkodilator mendilatasi jalan napas  dengan membantu melawan edema mukosa bronkial dan spasme muskular. Karena efek samping biasa terjadi pada tindakan ini, dosis obat disesuaikan dengan cermat untuk setiap pasien.

 

3

Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK

 

Setelah diberikan asuhan  keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri hilang dengan kriteria hasil :

a)      Nyeri hilang

b)      Pasien tenang

c)      Tidak terjadi mual muntah

d)     Pasien dapat beristirahat dengan tenang

a)      Memberikan lingkungan yang tenang

b)      Meningkatkan tirah baring, bantu perawatan diri pasien

c)      Meletakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata

 

d)     Mendukung pasien untuk menemukan posisi yang nyaman

e)      Memrikan ROM aktif/pasif

 

f)       Mengunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung yang tidak ada demam

g)      Kolaborasi pemberian obat analgetik seperti asetaminofen, kodein sesuai indikasi

 

 

a)      Menurunkan reaksi terhadap stimulus dari luar dan meningkatkan istirahat

b)      Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri

c)      Meningkatkan vasokontriksi, penumpukan resepsi sensori yang akan menurunkan nyeri

d)     Menurun kaniritasi meningeal dan resultan ketidaknyamanan lebih lanjut

e)      Membantu merelaksasi ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri

f)       Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit

 

g)      Untuk menghilangkan nyeri yang hebat

 

4

Risiko cidera berhubungan dengan kerusakan jaringan neuron, kejang

Setelah diberikan asuhan  keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi cidera dengan kriteria hasil :

a)      Tidak mengalami jatuh akibat gagguan keseimbangan

a)      Identifikasi bahaya potensial pada lingkungan klien

b)      Pantau tingkat kesadaran

c)      Orientasikan klien pada tempat, orang, waktu, kejadian

d)     Observasi saat kejang, lama kejang, antikonvulsi,

e)      Anjurkan  klien untuk tidak beraktifitas

 

 

5

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan peningkatan TIK

 

Setelah diberikan asuhan  keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat dengan kriteria hasil :

a)      Mual muntah hilang

b)      Napsu makan meningkat

c)      BB kembali seperti sebelum sakit

a)      Mengkaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan

 

b)      Memberi makanan dalam jumlah kecil dan sering

 

 

c)      Menimbang berat badan

 

d)     Kolaborasi dengan ahli gizi

 

 

e)      Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, dan albumin).

 

a)      Menentukan pemilihan terhadapjenis makanan sehingga pasien terlindungi dari aspirasi

b)      Meningkatkan proses pencernaan dan kontraksi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan

c)      Mengevaluasi keefektifan/ kebutuhan mengubah pemberian nutrisi

d)     Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi

e)      Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi.

 

6

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan tumor / kerusakan jaringan ditandai dengan kelemahan, paralisis, abnormalitas fungsi motorik

Setelah diberikan asuhan

keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pasien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya dengan kriteria hasil:

a)    Tidak terjadi kontraktur sendi

b)   Bertambahnya kekuatan otot

c)    Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

 

a)    Ubah posisi klien tiap 2 jam (terlentang, miring)

 

b)   Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit

 

c)    Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif dan pasif  pada semua ekstrimitas.

 

d)   Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit untuk menyokong/ menggerakkan daerah tubuh yang mengalami kelemahan

e)      Tinggikan tangan dan kepala

 

f)       Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien

a)      Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan

b)      Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan

c)      Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan, meningkatkan sirkulasi dan mencegah kontraktur

d)     Dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih terganggu dan memerlukan dorongan serta latihan aktif untuk menyatukan kembali sebagai bagian dari tubuhnya sendiri.

 

e)      Meningkatkan aliran balik vena dan mencegah edema

f)       Program yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi dan kekuatan

 

7

Gangguan sensori persepsi berhubungan dengantumor / kerusakan jaringan ditandai dengan hilang penglihatan pada setengah lapang pandang.

 

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan persepsi sensori visual / penglihatan teratasi sesuai batas toleransi dengan criteria hasil :

a)   Dengan penglihatan yang terbatas klien mampu melihat lingkungan semaksimal mungkin.

b)  Mengenal perubahan stimulus yang positif dan negative

 

a)   Orientasikan pasien terhadap lingkungan aktifitas.

 

b)  Bedakan kemampuan lapang pandang diantara kedua mata

c)   Observasi tanda disorientasi dengan tetap berada di sisi pasien.

d)  Dorong klien untuk melakukan aktivitas sederhana seperti menonton TV, radio, dll

e)   Anjurkan pasien menggunakan kacamata katarak, cegah lapang pandang perifer dan catat terjadinya bintik buta.

 

a)   Memperkenalkan pada pasien tentang lingkungan dam aktifitas sehingga dapat meninggalkan stimulus penglihatan.

b)  Menentukan kemampuan lapang pandang tiap mata

c)   Mengurangi ketakutan pasien dan meningkatkan stimulus.

d)  Meningkatkan input sensori, dan mempertahankan perasaan normal, tanpa meningkatkan stress.

e)   Menurunkan penglihatan perifer dan gerakan.

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Brenda G. Bare, Suzanne C. Smeltzer. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Batticaca, Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Brunner & Sudarth. 2003. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Ed 8 Vol 3. EGC. Jakarta

Doenges.EM. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses PenyakitEdisi 6 Vol.2. Jakarta: EGC