Saturday, April 21, 2012

Anatomi dan Fisiologi Saraf 2


A.    ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM LIMBIK
Istilah Limbik berarti “batas” atau “tepi” yang diperkenalkan oleh Brica pada tahun 1878 untuk menunjuk pada dua girus yang membentuk limbus atau batas disekitar diensefalon. Sistem Limbik merupakan suatu konsep fungsional dan tidak memiliki definisi yang diterima secara umum. Struktur kortikal utama adalah girus singuli, girus hipokampus, dan hipokampus. Bagian subkortikal mencakup amigdala, traktus dan bulbus olfaktorius, serta septum. Beberapa ahli menyertakan hipotalamus dan bagian-bagian thalamus dalam system limbic ini karena hubungan fungsionalnya yang erat.Sistem limbic mempunyai hubungan timbal balik dengan banyak struktur saraf sentral pada beberapa tingkat integrasi termasuk neokorteks, hipotalamus, system aktivasi retikularis batang otak. Sistem ini dipengaruhi oleh masukan dari semua system sensorik terintegrasi dan selanjutnya dinyatakan sebagai suatu pola tingkah laku melalui hipotalamus yang mengkoordinasi respon autonom, somatic dan endokrin. Sistim limbic diyakini ikut berperan dalam ingatan, karena lesi pada hipokampus dapat mengakibatkan hilangnya ingatan baru.
Sistem limbik mengandung bagian dari kesadaran dan ketidak sadaran otak. Sistem ini menggabungkan fungsi mental yang lebih tinggi sepeti penalaran dengan perasaan yang lebih primitif seperti ketakutan dan kesenangan. Terdapat dalam kortek serebri dan mengandung jalur neuron yang menghubungkan lobus frontalis, lobus temporalis, talamus dan hipotalamus.
Stimulasi sistem limbik menghasilkan kemarahan, kesakitan, kesenangan atau kesedihan. Dengan menimbulkan perasaan kesenangan dan ketidak senangan pada pengalaman, sistem ini menunjukkan individu pada perilaku yang meningkatkan kemungkinan bertahan hidup. Sistem ini juga berperanan dalam memori atau ingatan dan belajar. Belajar membutuhkan memori yang tersimpan dalam regio sensoris di serebrum, tapi yang memungkinkan perkembangan memori tidak diketahui.
Keikutsertaan sistem limbik dalam memori menjelaskan kenapa perubahan peristiwa emosional menghasilkan memori paling jelas dan kuat. Faktanya sistem limbik berhubungan dengan area sensoris untuk peraba, pembau, penglihatan dan sebagainya, bertanggung jawab pada kemampuan dari sensasi sensoris membangkitkan memori yang kompleks.
                     
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju. limbik secara harfiah diartikan sebagai perbatasan. sistem limbik itu sendiri diartikan keseluruhan lintasan neuronal yang mengatur tingkah laku emosional dan dorongan motivasional. bagian utama sistem limbik adalah hipothalamus dan struktur-strukturnya yang berkaitan. bagian otak ini sama dengan yang dimiliki hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia.

komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteslimbik.
Sistem limbik berfungsi untuk mengendalikan emosi, mengendalikan hormon,memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, seksualitas, pusat rasa senang,metabolisme dan juga memori jangka panjang. Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi. Carl Gustav jung menyebutnya sebagai alam bawah sadar atau ketaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang, dan perilaku tulus lainnya. Ledoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, respek dan kejujuran.sistem limbik yang terdiri dari amigdala, thalamus dan hipothalamus ini berperanan sangat penting dan berhubungan langsung dengan sistem otonom maupun bagian otak  penting lainnya. karena hubungan langsung sistem limbik dengan sistem otonom, jadinya bila ada stimulus emosi negatif yang langsung masuk dan diterima oleh sistem limbik dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti : gangguan jantung, hipertensi maupun gangguan saluran cerna. tidak heran saat seseorang marah, maka jantung akan berdetak lebih cepat dan lebih keras dan tekanan darah dapat meninggi. stimulus emosi dari luar ini dapat langsung potong jalur masuk ke sistem limbik tanpa dikontrol oleh bagian otak yang mengatur fungsi intelektual yang mampu melihat stimulus tadi secara lebih obyektif dan rasional. hal ini menjelaskan kenapa seseorang yang sedang mengalami emosi kadang perilakunya tidak rasional. permasalahan lain adalah pada beberapa keadaan seringkali emosinegatif seperti cemas dan depresi timbul secara perlahan tanpa disadari dan individu tersebut baru menyadari saat setelah timbul gejala fisik, seperti misalnya hipertensi.

B.     ANATOMI DAN FISIOLOGI HIPOTALAMUS

Hipotalamus merupakan bagian ujung anterior diensefalon dan di depan nucleus interpedunkularis. Hipotalamus terbagi dalam berbagai inti dan dareah inti.  Hipotalamus terletak pada anterior dan inferior thalamus. Berfungsi mengontrol dan mengatur system saraf autonom, Pengaturan diri terhadap homeostatic, sangat kuat dengan emosi dan dasar pengantaran tulang, Sangat penting berpengaruh antara system syaraf dan endokrin.  Hipotalamus juga bekerjasama dengan hipofisis untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu tubuh melalui peningkatan vasokonstriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar hipofisis. Hipotalamus juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat badan. Sebagai pengatur tidur, tekanan darah, perilaku  agresif dan seksual dan pusat respons emosional (rasa malu, marah, depresi, panic dan takut). 
Adapun fungsi dari hipotalamus antara lain adalah:
1.      Mengontrol suhu tubuh
2.      Mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin
3.      Mengontrol asupan makanan
4.      Mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior
5.      Menghasilkan hormon-hormon hipofisis posterior
6.      Mengontrol kontraksi uterus pengeluaran susu
7.      Pusat koordinasi sistem saraf otonom utama, kemudian mempengaruhi semua otot polos, otot jantung, sel eksokrin
8.      Berperan dalam pola perilaku dan emosi

Peran hipotalamus
Pengaturan hipotalamus terhadap nafsu makan terutama bergantung pada interaksi antara dua area : area makan” lateral di anyaman nucleus berkas prosensefalon medial pada pertemuan dengan serabut polidohipotalamik, serta “pusat rasa kenyang:’ medial di nucleus vebtromedial. Perangsangan pusat makan membangkitkan perilaku makan pada hewan yang sadar, sedangkan kerusakan pusat makan menyebabkan anoreksia berat yang fatal pada hewan yang sebenarnya sehat. Perangsangan nucleus ventromedial menyebabkan berhentinya makan, sedangkan lesi di regio ini menyebabkan hiperfagia dan bila persediaan makan banyak, sindrom obesitas hipotalamik.
Hubungan hipotalamus dengan fungsi otonom
  1. Hubungan aferen dan eferen hipotalamus
Jalur aferen dan eferen utama dari dan ke hipolamus sebagian besar tidak bermielin. Banyak serabut menghubungkan hipotalamus dengan system limbic. Juga terdapat hubungan penting antara hipotalamus dengan nucleus-nucleus di tegmentum mesensefalon, pons dan rhombensefalon.
Neuron penghasil norepinefrin yang badan selnya berada di rhombensefalon berujung di berbagai bagian yang berbeda di hipotalamus. Neuron paraventrikel yang mungkin mengeluarkan oksitoksin dan vasopressin sebaliknya menuju ke rhombensefalon dan berakhir di hipotalamus ventral. Terdapat system neuron penghasil dopamine intrahipotalamus yang badan selnya terdapat  di nucleus arkuata dan berujung pada atau dekat kapiler yang membentuk pembuluh portal di eminensia mediana. Neuron penghasil serotonin berproyeksi ke hipotalamus dari nucleus rafe.

  1. Hubungan dengan kelenjar hipofisis
Terdapat hubungan saraf antara hipotalamus dan lobus posterior kelenjar hipofisis serta hubungan vascular antara hipotalamus dengan lobus anterior. Secara embriologis, hipofisis posterior muncul sebagai besar ventrikel ketiga. Hipofisis posterior sebagian besar tersusun dari berbagai ujung akson yang muncul dari badan sel di nucleus supraoptik di hipofisis posterior melalui traktus hipotalamohipofisis.

  1. Hubungan dengan fungsi otonom     
Bertahun-tahun yang lalu, Sherrington menyebutkan hipotalamus sebagai “ganglian utama sisten otonom”.  Perangsangan hipotalamus  menimbulkan respons otonom, tetapi hipotalamus sendiri tampaknya tidak terpengaruh oleh pengaturan fungsi viseral yang dilakukannya. Sebaliknya, respons otonom yang ditimbulkan di hipotalamus merupakan bagian dari fenomena yang lebih kompleks seperti makan dan bentuk emosi lain seperti marah. Sebagai contoh , perangsangan terhadap berbagai bagian hipotalamus, terutama dareah lateral, menyebabkan pelepasan muatan dan peningkatan sekresi medulla adrenal seperti lepas-muatan simpatis massal yang di jumpai pada hewan yang terpajan stress.

  1. Hubungan dengan tidur
zona tidur prosensefalon basal mencakup sebagian dari hipotalamus. Bagian-bagian ini serta fisiologi keseluruhan dari keadaan tidur dan terjaga dibakar.

  1. Hubungan dengan fenomena siklik
Sel pada tumbuhan dan hewan mengalami fluktuasi ritnis dalam berbagai fungsinya yang lamanya sekitar 24 jam, yang disebut bersifat sirkadian. Pada mamalia,termasuk manusia , sebagain besar sel memiliki irama sirkadian. Dalam hati, irama ini dipengaruhi oleh pola asupan makanan,tetapi pada hampir semua sel lain irama diselaraskan oleh sepasang nucleus suprakiasmatik (SCN), satu di tiap-tiap sisi di atas kiasma optikum.


C.    ANATOMI DAN FISIOLOGI MEDULLA SPINALIS

DASAR ANATOMI MEDULA SPINALIS
Medulla Spinalis merupakan bagian dari Susunan Syaraf Pusat. Terbentang dari foramen magnum sampai dengan L1, di L1 melonjong dan agak melebar yang disebut conus terminalis atau conus medullaris. Terbentang dibawah conu terminalis serabut-serabut bukan syaraf yang disebut filum terminale yang merupakan jaringan ikat.
Terdapat 31 pasang syaraf spinal: 8 pasang syaraf servikal, 12 Pasang syaraf Torakal, 5 Pasang syaraf Lumbal, 5 Pasang syaraf Sakral dan 1 pasang syaraf koksigeal. Akar syaraf lumbal dan sakral terkumpul yang disebut dengan Cauda Equina. Setiap pasangan syaraf keluar melalui Intervertebral foramina. Syaraf Spinal dilindungi oleh tulang vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan CSF.

MENINGEN SPINAL
Meningen Spinal terdiri atas tiga lapis yaitu: Dura mater, arachnoid dan piamater. Duramater yang merupakan lapisan yang kuat, Membran fibrosa, Bersatu dengan filum terminale. Piamater berupa lapisan tipis, kaya pembuluh darah, nyambung dengan medula spinalis. Rongga antara periosteum dengan duramater disebut dengan epidural yang merupakan area yang mengandung banyak pembuluh darah dan lemak. Rongga antara duramater dengan arachnoid disebut dengan subdural. Sub dural tidak mengandung CSF. Rongga antara Arachnoid dan Piamater disebut dengan Subarachnoid. Pada rongga ini terdapat Cerebro Spinal Fluid, Pembuluh Darah dan akar-akar syaraf

CAIRAN SEREBRO SPINAL
Cairan Serebro Spinal merupakan Cairan bening hasil ultrafiltrasi dari pembuluh darah di kapiler otak. Cairan ini selalu dipertahankan dalam keadaan seimbangan antara produksi dan reabsorpsi oleh pembuluh darah. CSF mengandung air, protein dalam jumlah kecil, oksigen dan karbondioksida, Na,K,Ca,Mg,Cl, glukosa, Sel darah putih dalam jumlah kecil, dan material organik lainnya.

STRUKTUR INTERNAL
Terdapat substansi abu abu dan substansi putih. Substansi Abu-abu membentuk seperti kupu-kupu dikelilingi bagian luarnya oleh substansi putih. Terbagi menjadi bagian kiri dan kanan oleh anterior median fissure san median septum yang disebut dengan posterior median septum.
Keluar dari medula spinalis merupakan akar ventral dan dorsal dari syaraf spinal. Substansi abu-abu mengandung badan sel dan dendrit dan neuron efferen, akson tak bermyelin, syaraf sensoris dan motoris dan akson terminal dari neuron. Substansi abu-abu membentuk seperti huruf H dan terdiri dari tiga bagian yaitu: anterior, posterior dan Comissura abu-abu. Bagian Posterior sebagai input /afferent, anterior sebagai Output/efferent, comissura abu-abu untuk refleks silang dan substansi putih merupakan kumpulan serat syaraf bermyelin.

PERAN MEDULA SPINALIS
  1. Pusat prosesing data
  2. Jalur sensoris
  3. Sistem piramidal dan ekstrapiramidal

REFLEKS SPINAL
Refleks merupakan respon bawah sadar terhadap adanya suatu stimulus internal ataupun eksternal untuk mempertahankan keadaan seimbang dari tubuh. Refleks yang melibatkan otot rangka disebut dengan refleks somatis dan Refleks yang melibatkan otot polos, otot jantung atau kelenjar disebut refleks otonom atau visceral.


D.    ANATOMI DAN FISIOLOGI MEDULLA OBLONGATA
System Medulla Oblongata merupakan bagian batang otak yang berbentuk pyramid diantara medula spinalis dan pons. Terletak di bagian bawah dan belakang tengkorak dipisahkan dengan cerebrum, diatas medula oblongata.
Medulla oblongata meneruskan serabut-serabut motorik dari otak ke medulla spinalis dan serabut-serabut sensorik dari medulla spinalis ke otak. Dan serabut-serabut tersebut menyilang pada daerah ini. Pons juga berisi pusat-pusat terpenting dalam mengontrol jantung, pernafasan dan tekanan darah dan sebagai asal-usul saraf otak kelima sampai kedelapan.
Medulla oblongata berfungsi untuk :
1.      Menghantarkan impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak,
2.      Pusat keseimbangan,
3.      Mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan gerakan otot dengan baik,
4.      Menghantarkan impuls dari otot-otot bagian kiri dan kanan tubuh.
5.      Medulla oblongata juga mempengaruhi jembatan refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan.
6.      Selain itu, medulla oblongata juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.


E.     ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SARAF KRANIAL
Saraf-saraf cranial langsung berasal dari otak dan meninggalkan tengkorak melalui lubang-lubang pada tulang yang disebut foramina (tunggal, foramen). Terdapat 12 pasang saraf cranial yang dinyatakan dalam nama atau angka romawi. Saraf-saraf tersebut adalah olfaktorius (I), optikus (II), okulomatorius (III), troklearis (IV), trigeminus (V), abdusens (VI), fasialis (VII), vestibulokoklearis (VIII), glosofaringeus (IX), vagus (X), asesorius (XI), hipoglosus (XII). Saraf cranial I, II, dan VIII merupakan saraf sensorik murni. Saraf cranial III, IV,VI, XI, dan XII terutama merupakan saraf motorik, tetapi juga mengandung serabut proprioseptif dari otot-otot yang dipersarafinya. Saraf cranial V, VII, IX dan X merupakan saraf campuran. Saraf cranial III, VII, dan X juga mengandung beberapa serabut saraf dari cabang parasimpatis system saraf autonum.
Saraf Kranial
Komponen Saraf
Fungsi
I       olfaktorius
Sensorik
Penciuman
II      optikus
Sensirik
Penglihatan
III    okulomotorius
Motorik
Mengangkat kelopak mata atas
Kontriksi pupil
IV    troklearis
Motorik
Gerakan mata ke bawah dan ke dalam
V    Trigeminus
Motorik


Sensorik
Otot temporalis dan master ( menutup rahang, mengunyah, gerakan rahang ke lateral )
Kulit wajah dan 2/3 depan kulit kepala, mukosa mata, mukosa hidung, dan rongga mulut, lidah sedang gigi.
VI   Abdusend
Motorik
Deviasi mata ke lateral
VII  Fasialis
Motorik


Sensorik
Otot” ekspresi wajah termasuk otot dahi, sekeliling mata, dan mulut. Lakrimasi dan salivasi
Pengecapan 2/3 depan lidah
VIII Vestibulokoklearis
        Cabang vestibularis
        Cabang koklearis

Sensorik
sensorik

Keseimbangan
Pendengaran
IX    glosofaringeus
Motorik

Sensorik
Faring : menelan, reflex muntah
Parotis : salivasi
Faring, lidah posterior
X     vagus
Motorik
Sensorik
Faring, laring : menelan, reflek muntah
Faring, laring : reflex muntah, visera leher
XI   asesorius
Motorik
Pergerakan kepala dan bahu
XII  hipoglosus
Motorik
Gerakan lidah


F.     ANATOMI DAN FISIOLOGI SARAF SPINAL
Medulla Spinalis terdiri dari 31 segmen jaringan saraf dan masing-masing memiliki sepasang saraf spinal yang keluar dari kanalis vertebralis melalui voramina intervertebralis ( lubang pada tulang vertebra). Saraf-saraf spinal diberi nama sesuai dengan foramina intervertebralis tempat keluarnya saraf- saraf tersebut, kecuali saraf servikal pertama yang keluar diantara tulang oksipital dan vertebra servikal pertama. Dengan demikian, terdapat 8 pasang saraf servikal, 12 pasang torakalis, 5 pasang saraf lumbalis, 5 pasang saraf skralis, dan 1 pasang saraf koksigeal.
Saraf spinal melekat pada permukaan lateral medulla spinalis dengan perantaran dua radiks, radik posteriol atau dorsal  (sensorik) dan radik anterior atau ventral (motorik). Radiks dorsal memperlihatkan pembesaran, yaitu ganglion radiks dorsal yang terdiri dari badan-badan sel neuron aferen atau neuron sensorik. Badan sel seluruh neuron aferen medulla spinalis terdapat dapat ganglia tersebut. Serabut-serabut radiks dorsal merupakan tonjolan – tonjolan neuron sensorik yang membawa impuls dari bagian perifer ke medulla spinalis. Badan sel neuron motorik terdapat di dalam medulla spinalis dalam kolumna anterior dan lateral substansia grisea. Aksonnya membentuk serabut-serabut radiks ventral yang berjalan menuju ke otot dan kelenjar. Kedua radiks keluar dari foramen intervertebralis dan bersatu membentuk saraf spinal. Semua saraf spinal merupakan saraf campuran, yaitu mengandung serabut sensorik maupun serabut motorik.
Bagian dorsal saraf spinal mempersarafi otot intrinsic punggung dan segmen-segmen tertentu dari kulit yang melapisinya yang disebut dermatoma. Bagian ventral merupakan bagian yang besar dan dan membentuk bagian utama yang membentuk spinal. Otot-otot dan kulit leher, dada, abdomen, dan ekstremitas dipersarafi oleh bagian ventral. Pada semua saraf spinal kecuali bagian torakal, saraf-saraf spinal bagian ini saling terjalin sehingga membentuk jalinan saraf yang disebut Fleksus. Fleksus yang terbentuk adalah fleksus servikalis, brakialis, lumbalis, sakralis dan koksigealis. Keempat saraf servikal yang pertama (C1-C4) membentuk fleksus servikalis yang mempersarafi leher dan bagian belakang kepala. Salah satu cabang yang penting sekali adalah saraf frenikus yang mempersarafi diagfragma.
Fleksus brakialis yang dibentuk dari C5-T1, fleksus ini mempersarafi ekstremitras atas.Saraf torakal(T3-T11) mempersarafi otot-otot abdomen bagian atas dan kulit dada serta abdomen. Pleksus lumbalis berasal dari segmen spinal T12-L4 mempersarafi otot-otot dan kulit tubuh bagian bawah dan ekstremitas bawah., pleksus sakralis dari L4-S4, dan pleksus koksigealis dari S4 sampai saraf koksigealis. Saraf utama dari pleksus ini adalah saraf femoralis dan obturatorius. Saraf utama dari pleksus sakralis adalah saraf iskiadikus, saraf terbesar dalam tubuh. Saraf ini menembus bokong dan turun kebawah melalui bagian belakang paha. Kulit dipersarafi oleh radiks dorsal dari tiap saraf spinal, jadi dari satu segmen medulla spinalis disebut dermatom. Otot-otot rangka juga mendapat persarafan segmental dari radiks spinal ventral.


G.    ANATOMI DAN FISIOLOGI SARAF OTONOM
Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif, sistem syaraf visceral atau sistem syaraf tidak sadar, sistem mengendalikan dan mengatur kemauan. Sistem syaraf ini terdiri dari atas serabut syaraf-syaraf, ganglion-ganglion dan jaringan syaraf yang mensyarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, alat-alat dalaman dan otot-otot polos. Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom, bekerja berdasarkan kemampunannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neurohimor-transmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom di ganglion atau sel-sel (organ-organ) efektor. Termasuk kelompok ini pula adalah beberapa kelenjar (ludah, keringat dan pencernaan) dan juga otot jantung, yang sebagai pengecualian bukan merupakan otot polos, tetapi suatu otot lurik. Dengan demikian, sistem saraf otonom tersebar luas di seluruh tubuh dan fungsinya adalah mengatur secara otomatis keadaan fisiologi yang konstan, seperti suhu badan, tekanan, dan peredaran darah, serta pernapasan (Tjay & Rahardja, 2002).

Anatomi Susunan Saraf Otonom
Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari susunan saraf pusat ke organ efektor melalui 2 jenis serat saraf eferen yaitu saraf praganglion dan saraf pascaganglion. Lingkaran refleks saraf otonom terdiri dari serat aferen yang sentripental disalurkan melalui N. vagus, pelvikus, splanknikus, dan saraf otonom lainnya. Badan sel serat-serat ini terletak di ganglia dalam kolumna dorsalis dan ganglia sensorik dari saraf kranial tertentu. Tidak jelas perbedaan antara serabut aferen sistem saraf otonom dengan serabut aferen sistem somatik, sehingga tidak dikenal obat yang secara spesifik dapat mempengaruhi serabut aferen otonom. Serat eferen yang disalurkan melalui saraf praganglion, ganglion, dan saraf pascaganglion berakhir pada sel efektor (Tjay & Rahardja, 2002).
Saraf otonom juga berhubungan dengan saraf somatik; sebaliknya kejadian somatik dapat mempengaruhi fungsi organ otonom. Pada susunan saraf pusat terdapat beberapa pusat otonom, yaitu di medulla oblongata terdapat pengatur pernapasan dan tekanan darah; hipotalamus dan hipofisis yang mengatur suhu tubuh, keseimbangan air, metabolisme karbohidrat dan lemak, pusat tidur dan sebagainya. Hipotalamus dianggap sebagai pusat sistem saraf otonom. Walaupun demikian masih ada pusat yang lebih tinggi lagi yang dapat mempengaruhinya yaitu korpus striatum dan korteks serebrum yang dianggap sebagai koordinator antara sistem otonom dan somatik (Tjay & Rahardja, 2002).
Serat eferen terbagi dalam sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis disalurkan melalui serat torakolumbal dari torakal 1 sampai lumbal 3, dalam sistem ini termasuk ganglia paravertebral, pravertebral dan ganglia terminal. Sistem parasimpatis atau kraniosakral outflow disalurkan melalui saraf otak ke III, VII, IX dan X, dan N. pelvikus yang berasal dari bagian sacral segmen 2, 3, dan 4. Sebagian besar neuron praganglion parasimpatis berakhir di sel-sel ganglion yang tersebar merata atau yang terdapat pada dinding organ efektor (Mutschler, 1991).
Serat aferen misalnya yang berasal dari presoreseptor dan kemoreseptor dalam sinus karotikus, badan karotis dan aorta yang diteruskan melalui N. IX dan X menuju ke medulla oblongata. Sistem ini berhubungan dengan refleks untuk mempertahankan tekanan darah, frekuensi jantung dan pernapasan (Mutschler, 1991).
Neurotransmitter yang memperantarakan perpindahan impuls di serabut aferen belum jelas dipahami. Salah satu dugaan adalah substansi P yang terdapat di serabut sensoris aferen akar dorsal ganglia dan tanduk dorsal medulla spinalis. Substansi P diduga berfungsi pada penyampaian stimulus nyeri ke pusat. Peptida lain yaitu somatostatin, polipeptida vasoaktif intestinal (VIP, Vasoactive Intestinal Polipeptide) dan kolesistokinin juga diduga berperan pada penyampaian impuls aferen dari organ otonom. Enfekalin di interneuron medulla spinalis dorsalis di area substansia gelatinosa berefek antinosiseptif yang ditimbulkan lewat aksi prasipnatik dan pascasipnatik, menghambat penglepasan substansi P (Mutschler, 1991).

Terdapat 5 perbedaan pokok antara saraf otonom dan saraf somatik yaitu
  1. Saraf otonom menginervasi semua struktur dalam tubuh kecuali otot rangka.
  2. Sinaps saraf otonom simpatis terletak dalam ganglia yang berada di medulla spinalis, yakni ganglio pravertebralis dan ganglia paravertebralis. Tetapi sinaps saraf otonom parasimpatis berakhir di ganglia parasimpatis, yang terdapat di luar organ yang dipersarafi, yakni ganglia siliaris, pterigopalatina, submandibula, otikus dan pelvis. Saraf somatik hanya mempunyai satu jenis neuron motorik, yang berasal dari otak atau medulla spinalis langsung menuju otot rangka tanpa melalui ganglia.
  3. Saraf otonom membentuk pleksus yang terletak di luar susunan saraf pusat, saraf somatik tidak membentuk pleksus.
  4. Saraf somatik diselubungi sarung mielin, saraf otonom pasca ganglion tidak bermielin.
  5. Saraf otonom menginervasi sel efektor yang bersifat otonom, artinya sel efektor itu dapat berfungsi tanpa persarafan. Sebaliknya, jika saraf somatik putus maka otot rangka yang bersangkutan mengalami paralisis disusul atropi otot (Mutschler, 1991).

Fungsi Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom berfungsi untuk memelihara keseimbangan dalam organism (sistem dunia dalam). Sistem ini mengatur fungsi-fungsi yang tidak di bawah kesadaran dan kemauan, di antaranya:
a.       Sirkulasi, dengan cara menaikkan atau menurunkan aktivitas jantung dan khususnya melalui penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah.
b.      Pernapasan, dengan cara menaikkan atau menurunkan frekuensi pernapasan dan penyempitan atau pelebaran otot bronkhus.
c.       Peristaltik saluran cerna.
d.      Tonus semua otot polos lain (misalnya kandung empedu, ureter, kandung kemih, uterus).
e.       Sekresi kelenjar keringat, kelenjar air ludah, kelenjar lembung, kelenjar usus, dan kelenjar-kelenjar lain (Wawansumantri, 2009).
Bagian motorik perifer system saraf otonom terdiri atas neuron pra-gangkion dan pasca-ganglion. Badan sel neuron praganglion terletak di kolumna grisea intermediolateral eferen viseral (IML) medulla spinalis atau di nucleus motorik homolog saraf otak. Aksonnya sebagian besar merupakan serabut B penghantar yang relative lambat dan bermielin. Akson-akson itu bersinaps di badan sel neuron pascaganglion yang terletak di luar system saraf pusat. Setiap akson praganglion terbagi menjadi sekitar delapan atau Sembilan neuron pascaganglion. Dengan demikian, persarafan otonom bersifat difus. Akson neuron pascaganglion, yang sebagian besar merupakan serabut C tak-bermielin, berakhir di efektor viseral.

Cara Kerja Saraf Otonum
Susunan saraf dapat dianggap sebagai system pengendali tubuh. Pikiran dan kegiatan lainnya yang disadari atau dikehendaki berlangsung pada belahan otak yang disebut bagian “tertinggi” system tersebut. Kegiatan yang ditangani oleh susunan saraf otonum berlangsung pada bagian yang “lebih rendah“ dari otak dan susunan tulang belakang (medulla spinalis).

Pembagian kimiawi system saraf otonom
Berdasarkan mediator kimiawi yang dilepaskan, system saraf otonom dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a.       Divisi kolinergik
Neuro yang bersifat kolinergik adalah
1)         Semua neuron praganglion
2)         Neuron pascaganglion yang secara anatomis parasimpatik
3)         Neuron pascaganglion yang anatomis simpatik yang mempesarafi kelenjar    keringat
4)         Neuron yang secara anatomis simpatis yang berakhir pada pembuluh darah fi otot rongga dan menimbulkan vasodilatasi bila dirangsang.
b.      Divisi noradrenalin
Neuro yang bersifat noradrenalin adalah neuron simpatik pascaganglion yang lainnya. Secara anatomis,System saraf otonom di bagi menjadi 2 bagian yaitu:
1)      Saraf simpatis
Akson neuron praganglion simpatik meninggalkan medulla spinalis bersama radiks ventralis saraf TI sampai saraf spinal L3 dan L4. Akson-akson ini berjalan melalui rami communicantes albi ke rantai ganglion simpatik paravertebrata,dan sebagai besar berakhir di badan sel neuron pascaganglion berjalan ke visera dalam berbagai saraf simpatik. Sebagian lain masuk kembali ke dalam saraf spinal melalui rami communicantes grisea dari rantai ganglion dan disebarkan ke efektor otonom di daerah yang dipersarafi olek saraf-saraf spinal tersebut. Saraf simpatik pascaganglion untuk kepala barasal dari ganglia superior, media, dan stelata diperluaskan cranial rantai ganglion simpatik dan berjalan ke efektor bersama pembuluh darah. Sebagian pembuluh praganglion berjalan melalui rantai ganglion paravertebra dan berakhir di neuron paascanglion yang terletak pada ganglion kolateral dekat visera tersebut. Sebagian uterus dan saluran kelamin laki-laki disarafi oleh suatu system khusus, neuron noradrenergic pendek dengan badan sel di ganglion yang terletak pada atau dekat organ tersebut, sedangkan serabut praganglion untuk neuron pascaganglion ini kemungkinan berjalan sampai organnya.

2)      Saraf parasimpatis
Keluaran cranial divisi parasimpatik mempersarafi struktur visera di kepala melalui nervus okulomotorius, fasialis dan glosofaringeus ,serta struktur dalam toraks dan abdomen bagian atas melalui saraf vagus.
Keluaran sacral mempersarafi organ panggul melalui cabang pelvis saraf spinal S2 dan s4. Serabut praganglion kedua keluaran tersebut berakhir dneuron pascaganglion pendek yang terletak pada atau dekat struktur organ tersebut.



                                                                                                               
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, volume 2.  Jakarta : EGC.
Guyton, Arthur. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi 3, Jakarta : EGC
Laurralee Sherwood. .2001. Fisiologi Manusia. Edisi 2, Jakarta : EGC
Sylvia and Lorraine. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta : EGC.
W.F.Ganong. 2005. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGCs





0 comments:

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))

Silakan tinggalkan komentar...
komentar anda akan jadi inspirasi bagi saya.

ingat diisi namanya ya, terimakasih :)